Potensi Wisata

Dusun-dusun

Wednesday, August 2, 2017

TREND DI SINI MENJADI SANTRI



“Knowladge is Power”, “Tuntutlah Ilmu Hingga ke Negeri China” atau yang sering ditemui “Tong Kosong Nyaring Bunyinya”. Itu semua adalah pepatah dan peribahasa yang sering digunakan dalam dunia pendidikan. Celah pendidikan yang terlalu longgar telah diperbaiki oleh bapak/ibu yang ada di pemerintahan, tujuannya mulia, hanya untuk membuat Indonesia lebih cerdas, bukan hanya untuk menurunkan persentase kebodohan kok hehehe.
Seperti janji pemerintah yang dituliskan di UUD 1945 ayat 31, tentang hak dan kewajiban warga negara, inti dari pasal tersebut bahwasannya anak di Indonesia wajib mengikuti sistem belajar mengajar selama 9 tahun, dan pemerintah memiliki kewajiban memfasilitasi. Fasilitas disini diartikan secara luas, baik fasilitas pendukung seperti gedung, fasilitas jasa seperti guru dan pelayanan administrasi, atau sistem pembelajaran.

Sistem pembelajaran Islami adalah salah satu cabang dari sistem pembelajaran di Indonesia,  sekolah madrasah adalah salah satu cabang pendidikan formal. Dalam lingkup islam, selain pendidikan formal, banyak juga pendidikan non-formal seperti TPA/TPQ atau mengaji di masjid-masjid untuk memerdalam ilmu agama.

Masyarakat karduluk adalah masyarakat Madura, mayoritas masyarakatnya menjunjung tinggi syariat Islam, seolah islam adalah budaya asli dari masyarakat.  Banyaknya masjid di setiap kampung menjadi bukti bahwa orang-orang di Karduluk adalah syar’i, ditambah lagi mushola kecil di sebagian besar rumah penduduk memerkental corak agama di desa ini. Kekuatan Islamiyah diperkuat dengan selalu penuhnya shaf sholat di setiap masjid.

Pendidikan formal di tengah masyarakat Islami menjadi sosok sekunder di mata mereka. Anak-anak desa dianjurkan mengikuti sekolah formal hingga sekolah dasar (SD). Ketika SD pun, mereka tidak meninggalkan kegiatan beragama, seperti sholat dhuha berjamaah, sholat dhuhur berjamaah, dan membaca surat yasin setiap harinya.

Siswa-siswi di sini lebih pantas disebut santri, kenapa? Dalam kegiatan apapun, tidak luput dari spiritual keagamaan. Masa depan mayoritas cenderung menuju hirarki Islamiyah, ketika ditanya “setelah lulus sekolah dasar, adik mau kemana?”, jawabannya bermacam-macam, tetapi sama, “mau ke Al-Amien (pondok pesantren di Prenduan, Pragaan), belajar menghafal Al-Qur’an”, yang lain menjawab “mau mondok aja kak, enak, dari pada menganggur, bisa mengaji”.

Terus fokuskan titik konsentrasi kalian dalam bidang agama dik, ketika di luar sana banyak sekali orang yang memerebutkan kursi pegawai kantoran, bos pabrik atau seorang manager, yang kerjaannya setiap hari duduk menghadap layar komputer, tapi jangan lupa berusaha juga, karena berdo’a tanpa berusaha sama juga bohong.  

0 comments:

Post a Comment