Potensi Wisata

Dusun-dusun

Wednesday, August 9, 2017

TERIMAKASIH KALIAN, BARISAN PARA SIWALAN





Desa Karduluk merupakan desa paling timur dari kecamatan Pragaan dan langsung berbatasan dengan kecamatan Bluto. Karena wilayahnya paling timur, desa ini dilewati akses utama untuk menuju ke Kota Sumenep.  hampir 65 persen wilayahnya tertutupi oleh pohon siwalan, selain banyak orang pengrajin kayu, deretan pohon siwalan menjadi tanda utama seseorang telah memasuki desa Karduluk. Tidak ada gerbang selamat datang ataupun plang yang menandai desa ini. Sebagai gantinya, ribuan pohon siwalan yang diterpa angin seakan memberi isyarat bahwa desa ini menerima kedatangan seseorang dengan ramah.

Siwalan dengan masyarakat karduluk adalah dua unsur yang terikat kuat, mungkin itu tak terlihat pada masyarakat karduluk bagian selatan seperti dusun Blajud, Daleman dan Dunggadung. Hal yang berbeda terlihat jika menuju daerah utara desa, semisal desa Bandungan, Topoar, dan Bapelle. Tidak bisa dipungkiri, siwalan adalah sumber pekerjaan utama, semua bagian dari siwalan termanfaatkan oleh mereka. Jika di luar sana masyarakat perkotaan lebih senang pada kursi jabatan, masyarakat sisi utara Karduluk memilih berteman dengan sumber daya siwalan (ta’al).

Daerah kampung Bandungan terlihat seperti kampung yang bersembunyi di hutan, hutan siwalan tempat mereka bersembunyi termanfaatkan setiap harinya. Orang orang disana setiap hari memanjat pohon siwalan untuk menukar wadah nira siwalan (la’ang), dan hasil la’ang yang mereka kumpulkan pada hari sebelumnya dibawa turun untuk diolah lagi atau diminum sendiri. Pengolahan la’ang siwalan dilakukan oleh ibu rumah tangga, biasanya  la’ang dipanaskan dengan kayu bakar dari pagi hingga petang menjelang, tentunya sambil diaduk agar la’ang tidak mengendap, lama kelamaan warna la’ang yang tadinya putih menjadi kecoklatan, la’ang yang tadinya encer pun menjadi lebih kental dan beraroma, hingga jadilah gula merah (batok) dari la’ang siwalan.

Proses pemasakan la’ang siwalan memakan waktu yang cukup lama, sekitar 5-8 jam, sembari menunggu la’ang menjadi gula merah, ibu-ibu biasanya menganyam lontar siwalan yang telah dikeringkan menjadi tikar yang nyaman sebagai alas tidur atau tempat bersantai. Proses pengerjaannya sekitar 3-4 hari untuk tikar dengan ukuran 1,5x2 meter, cukup lama dan hasil penjualan tikar tak sebanding dengan apa yang dikerjakan, satu tikar dihargai sekitar 30.000 hingga 50.000 saja. Takut kalah saing dengan karpet yang dijual dipasaran menjadi alasan utama mereka, tapi  toh  mereka mendapatkan bahan baku secara gratis juga, jadi bagi masyarakat Bandungan dan sekitarnya tidak terlalu merugi.

Siwalan dan manusia menjadi suatu siklus mutualisme di kampung bagian utara. Bahkan keluarga di sana memiliki pekerjaan tetap setiap harinya, para suami memanjat pohon siwalan untuk mendapatkan la’ang dan lontar sekalian, jika menginginkan buah ta’al sebagai camilan ya tinggal ambil saja. Siangnya para suami menjemur lontar, sang istri di rumah memasak la’ang sembari menganyam lontar yang sudah kering. Jika stok lontar kering yang dikerjakan para suami masik banyak, biasanya dibeli pengepul untuk dijual ke pulau dewata Bali, setiap hari sabtu dikumpulkan di balau desa. Untuk pohon siwalan, pengambilan lontar-lontar oleh orang-orang Bandungan membuat para siwalan mengurangi proses pemasakan oleh daun, sehingga air yang menguap menjadi lebih sedikit, itu sebabnya pohon siwalan berumur hingga puluhan tahun. Sirkulasi tersebut berlangsung bertahun-tahun, generasi ke generasi, dan dari jaman ke jaman, kegiatan ini sudah menjadi tradisi yang sulit gugur. Inilah perwujudan saling terimakasih antara alam dan manusia.

0 comments:

Post a Comment