Potensi Wisata

Dusun-dusun

Wednesday, July 19, 2017

BUMI MANUSIA KARDULUK

     Bumi adalah objek tuhan untuk membuat manusia dan alam saling berkaitan. Objek tersebut terdiri dari dua wilayah yaitu laut dan daratan. Wilayah menurut aspek pemerintahan manusia terbagi menjadi banyak negara, negara terdiri dari beberapa wilayah pemerintahan lagi. Manusia Indonesia membaginya menjadi provinsi, kabupaten/kota, desa dan dusun, dalam setiap wilayahnya dipimpin oleh salah seorang dari mereka yang dianggap mampu. Pembagian wilayah pemerintahan di Indonesia bertujuan untuk menjaga keamanan, mengolah sumber daya alam, dan memermudah pelayanan kepada manusia lainnya. Desa bisa dikatakan sebagai bagian terkecil dari sebuah negara karena didalamnya terdapat tiga aspek penting, yaitu wilayah, rakyat, sistem pemerintahan dan pengakuan.
Manusia adalah makhluk sosial, mereka berhubungan satu sama lainnya, hubungan itu bisa berbentuk keluarga, teman ataupun kerabat. Manusia juga memiliki kegiatan rutin dan tradisi yang berbeda di setiap wilayahnya, mereka menamainya budaya. Madura adalah salah satu wilayah di bumi Indonesia yang memiliki budaya sosial yang sangat kuat. Wilayahnya berupa pulau yang kaya akan sumber daya alam. Pulau yang dekat dengan Jawa ini terkenal dengan garamnya, sehingga wilayah ini sering disebut pulau garam. Sayangnya pemimpin di pemerintahan tertinggi tidak bisa memanfaatkan sumberdaya alam dari pulau ini, dengan alasan kualitas, mereka memilih membeli garam dari tempat tinggal manusia lain di luar wilayah lokal. Madura tidak hanya memiliki garam, sumber daya lain bisa dimanfaatkan, tergantung bagaimana manusia di dalamnya memutar otak. “Soul of Madura” julukan Sumenep, bagian paling timur Madura, wilayahnya dibagi lagi menjadi kecamatan dan desa. Desa Karduluk memang tidak memiliki daya menarik seseorang untuk datang, baik untuk berwisata, berbisnis ataupun sebagai tempat singgah, akan tetapi ada beberapa hal yang menarik dari bumi tempat manusia Karduluk tinggal ini, diantaranya hubungan sosial, kekayaan hayati dan mata pencaharian mereka. 

MANUSIA PANGGILAN 
     Karduluk tidak bisa dikatakan kuno, manusia disana banyak yang sudah berkomunikasi melalui telepon genggam dan sepeda motor adalah alat transportasi utama di tempat ini. Menurut pengamatan pribadi, luas desa mencapai 5 km2 dan jarak antar dusun terpaut jauh, sehingga kendaraan seperti sepeda motor sudah menjadi sebuah kebutuhan. Masalah terjadi ketika, sepeda motor warga desa mengalami kerusakan, masalah sepele seperti ban bocor atau masalah yang sedikit rumit seperti kerusakan mesin, masyarakat karduluk hanya perlu memanggil tenaga ahli untuk datang dan memperbaiki. Manusia panggilan lainnya adalah pemanjat siwalan, karduluk adalah desa yang terkenal akan hasil siwalan, jika ada warga desa yang membutuhkan bantuan tenaga ahli untuk memanen siwalan, hanya perlu berkomunikasi melewati telepon genggam. Selain manusia-manusia ahli tersebut, kemungkinan masih banyak lagi yang lain dengan berbagai keahlian yang berbeda. Manusia panggilan ini tidak akan ada tanpa hubungan sosial. Sebenarnya bukan manusianya yang unik, akan tetapi hubungan sosial diantara mereka yang asik. 

SEMESTINYA MAHAL  
  
     Barang yang dijual mahal di pasaran belum tentu mahal pula di daerah aslinya. Misalnya saja, pakaian dari kota Paris, sangat mahal  jika dijual di bumi Pertiwi. Pizza yang mahal harganya,  belum tentu semahal  itu di Meksiko. Hal tersebut juga dialami  oleh siwalan dari desa karduluk, bedanya, manusia lokal asal siwalan tidak berhasil membuat produk hasil mereka menjadi mahal. Siwalan  di karduluk sangat melimpah, akan tetapi dijual mahal oleh manusia yang bukan dari karduluk dan tanpa modal. Pohon siwalan oleh manusia Karduluk diambil nira dan buahnya. Nira dari siwalan dijual mentah saja dan ada yang diproses lagi menjadi gula siwalan, sedangkan buahnya, diambil secara gratis oleh manusia-manusia luar desa, tanpa adanya rasa merugi, buah siwalan diambil setiap hari dari Karduluk dan dijual di luar kota. Mirisnya, siwalan dari desa ini sering dijumpai di pinggir jalan, bukan karena dijual, malainkan tergeletak semacam barang tak berharga.  

BAPAK GEPPETO
      Suatu hari diceritakan ada seorang lelaki tua sebatang kara membuat boneka dari kayu dan dijadikan hidup oleh seorang peri ajaib, kemudian boneka tersebut dinamai pinnochio. Cerita tersebut tidak hanya terjadi di TV atau cerita dongeng, Karduluk memiliki banyak Geppeto-Geppeto, bedanya geppeto dari karduluk tidak se tua, dan tidak membuat boneka kayu.

      Manusia Geppeto disini membuat kerajinan dari kayu jati berbentuk lemari, ranjang, dan souvenir. Kerajinan dari kayu asal karduluk diperindah dengan adanya ukiran-ukiran halus. Tangan terampil mereka mulai diasah kira-kira selulus Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sederajat. Kayu sebagai bahan dasar pembuatan kerajinan diperoleh dari luar desa tetapi masih dalam lingkup pulau atau jika ada orang yang memiliki pohon jati sendiri dan ingin membuat lemari atau yang lainnya hanya perlu memanggil satu pleton “Geppeto” untuk membuatnya. Pekerjaan mereka tidak berkelanjutan, mereka membuatnya jika hanya mendapatkan pesanan.  Jika dongeng Pinnochio benar ada  di Karduluk, tidak terbayang berapa banyak Pinnochio yang berkeliaran kesana kemari, dan berapa banyak ikan paus yang menelan mereka.  
 

0 comments:

Post a Comment