Potensi Wisata

Dusun-dusun

Sunday, August 7, 2016

Terjebak Cinta di Desa Karduluk

Pagi hari yang indah, aku tak perlu lagi menghidupkan alarm handphoneku hanya untuk membuat diriku terjaga karena setiap pagi selalu saja terdengar nyanyian khas dari mesin penghalus kayu di sebelah rumah kepala desa tempat aku tinggal. Desa yang aku tinggali ini memang khas dengan segala sesuatu yang berbau kayu. Hampir semua orang menggantungkan hidupnya pada cinta melalui sebuah seni ukir kayu. Mengapa aku sebut ini cinta? Mari aku ceritakan.
Desa Karduluk sebenarnya bukanlah desa penghasil Kayu. Banyak pohon siwalan yang justru tumbuh subur di daerah tersebut. Sebagian besar masyarakat banyak menggantungkan hidup pada pembuatan gula merah dan tikar berbahan dasar dari daun pohon siwalan, namun sepanjang perjalanan di Desa Karduluk hanya dihiasi dengan para pengrajin seni ukir yang memamerkan segala macam bentuk seni ukir khas Madura.
Pak Mamik adalah salah satu dari sekian banyak masayarakat di Desa Karduluk yang juga bekerja sebagai pengrajin seni ukir Khas Madura. Pak Mamik adalah seorang pengrajin kayu yang tidak sengaja jatuh cinta pada ‘seni ukir’ yang telah dilakoni oleh orang tuanya sejak dulu. Pak Mamik memulai perjalanan cintanya ini pada tahun 90-an. Bisa dibayangkan sudah berapa lama perjalanan cinta yang diarunginya. Menjadi seorang pengrajin seni ukir tentu bukanlah pilihannya namun perasaan cinta seperti tumbuh begitu saja sejak Pak Mamik menyadari akan kehebatan Ayahanda dalam memperjaungkan seni ukir daerah khas Madura.
Pak Mamik mengingat betapa banyak perjuangan yang telah dilakukan Ayahanda dalam kecintaannya terhadap seni ukir khas Madura. Ayah beliau merupakan seseorang yang senang berkelana mengintip setiap sudut Nusantara untuk mencari inspirasi agar kesenian yang dimilikinya dapat terus dikenal oleh khalayak dunia. Pak Mamik juga menceritakan bahwa Ayah beliau juga tak jarang sering mengikuti pameran seni nasional sekaligus memperkenalkan kesenian ukir khas Madura. Sejak saat itu, Pak Mamik menyadari bahwa segala sesuatu yang dilakoni oleh orang tuanya merupakan cinta terhadap Madura yang patut untuk terus diperjuangkan.
Pak Mamik mengawali cintanya melalui sebuah proses yang cukup lama. Pengetahuan yang didapatkan secara otodidak merupakan sebuah anugerah yang dianggapnya tidak dapat ditukar oleh apapun. Untuk dapat mempelajari setiap khas ukir Madura tidak hanya membutuhkan sebuah ketekunan maupun kepintaran. Pak Mamik menjelaskan untuk dapat menguasai seni ukir Khas Madura sangat perlu menuangkan jiwa di dalamnya. Menuangkan perasaan dalam sebuah seni merupakan sesuatu yang tidak dapat diabaikan. Pak Mamik juga menjelaskan bahwa hanya orang Madura yang saat ini tetap memperjuangkan seni ukir yang mengetahui ke khasan dari seni ukir Madura itu sendiri.



Di Indonesia kesenian ukir tersebar di beberapa daerah di Indonesia yaitu Bali, Jepara, Jawa, Palembang, dan Madura. Madura memiliki ke khasannya tersendiri. Seni khas Madura diperkuat dengan beberapa filosofi. Salah satunya adalah “Daun Kelapa Merunduk” atau yang biasa disebut “Nyeor Ondungan” oleh orang Madura. Kekhasan tersebut terletak pada ukiran daun yang biasanya terdapat pada setiap ukiran pintu, lemari, dan berbagai jenis furniture lainnya. Selain itu, ukir khas Madura juga lebih menegaskan pada ukiran Bunga dan Binatang. Semuanya tergambar dalam ilustrasi “Makhluk Hidup”. Dan salah satu khas seni ukir Madura yang tidak dapat ditemukan dari seni ukir lainnya adalah pemakaian warna dalam seni ukir yang dibuat sehingga ukiran yang dibuat terlihat lebih hidup dan berwarna. Begitulah Pak Mamik menjelaskan kecintaannya.
Para pengrajin seni ukir di Desa Karduluk mendapatkan bahan baku utama yaitu kayu dari Perhutani Sumenep. Menurut Pak Mamik, dengan adanya Perhutani sangat membantu para pengrajin seni ukir khususnya di Karduluk yang di desanya tidak dapat memproduksi kayu sendiri. Selain itu, kayu juga didapatkan dari daerah lain seperti Bojonegoro, Tuban, Saradan, Pasuruan, dan berbagai daerah penghasil kayu. Harga kayu yang dibeli bergantung pada ukuran diameter kayu serta panjang kayu dalam artian ada beberapa jenis golongan yang mempengaruhi harga jual kayu tersebut.
Dalam pembuatan seni ukir khas Madura, kayu Jati merupakan bahan baku utama yang paling banyak digunakan. Namun, seiring perkembangan zaman  kayu jenis lain seperti kayu mahoni, kayu nangka, maupun kayu lainnya juga dapat digunakan untuk kesenian ukir tersebut. Kayu yang akan digunakan bergantung dari seberapa besar kualitas yang diinginkan. Semakin bagus jenis kayu yang digunakan, maka semakin besar pula harga jual dari nilai ukir tersebut.
Di Desa Karduluk, kesenian ukir Khas Madura masih membentuk home industry. Sehingga, untuk setiap pemasaran serta penjualan dilakukan sendiri oleh pengrajin seni ukir. Untuk memamerkan barang-barang kesenian ukir dilakukan dengan mandiri yaitu hubungan relasi antar pribadi dengan beberapa pengusaha meubel yang ada di dalam Madura maupun diluar Madura. Belum ada pengepul maupun distributor untuk memasarkan kesenian tersebut. Pak Mamik mengatakan itulah salah satu kendala yang membuat seni ukir Khas Madura belum menguasai dunia seni ukir.
Namun, Pak Mamik tidak patah semangat untuk  terus memperkenalkan kesenian ukir khas Madura. Pak Mamik mengikuti jejak Ayahanda dengan memperkenalkan kesenian ukir khas Madura pada beberapa Pameran Nasional dua kali dalam setahun. Selain itu, Desa Karduluk juga berpartisipasi dalam perlombaan seni ukir antar SD se-Jawa Timur dan juara 1 berhasil dimenangkan oleh SDN Desa Karduluk. Menurut Pak Mamik, melalui lomba ersebut juga dapat menumbuhkan kecintaan generasi penerus terhadap seni ukir Madura.
Kecintaan yang dilakukan oleh Pak Mamik telah banyak memberikan penghasilan bagi Pak Mamik. Bahkan Pak Mamik tak segan untuk membantu memasarkan penjualan seni ukir milik beberapa home industry di desanya yang cukup kesulitan dalam pemasarannya. Menurut Pak Mamik, dalam sehari dapat tercatat penghasilan sebesar 200jt untuk seluruh jumlah penghasilan bagi pengrajin seni di Desa Karduluk.
Untuk membuat kesenian ukir perlu melewati beberapa proses. Dan setiap proses memerlukan banyak ketelitian dalam pengukuran maupun detail ukir yang dibuat. Kita dapat mengambil contoh seperti pembuatan lemari. Untuk pembuatan lemari kita harus mengukur seberapa panjang lemari yang akan dibuat serta menentukan ketebalan kayu yang diinginkan. Setelah itu barulah tahap pemotongan kayu dilakukan hingga akhirnya dihaluskan. Setelah kayu halus, tahap ukir merupakan tahap yang dianggap sangat penting karena akan menunjukkan seni ukir tersebut. Setelah tahap ukir selesai, masih terdapat tahap selanjutnya yaitu menghaluskan kembali setiap ukiran yang telah dibuat untuk mempertegas keindahan dari seni ukir tersebut. Setelah itu barulah proses pemberian warna terhadap seni ukir memberikan penegasan mendalam terhadap seni khas Madura.
Segala cinta yang diperjuangkan memiliki suka duka di dalamnya. Keterbatasan tenaga kerja merupakan sebuah duka yang terkadang menghambat berkembangnya seni ukir. Tidak semua orang dapat mengukir dan mengeksplorasi kesenian lebih luas lagi, sehingga terlihat seni ukir yang dibuat terkadang menoton. Selain itu pula, jumlah tenaga kerja yang terbatas membuat pekerjaan sedikit melambat. Diperlukan hingga sebulan untuk membuat sebuah seni ukir yang benar-benar berkualitas.

Maka dari itu, Pak Mamik berharap bahwa kedepannya generasi penerus dapat terus bertambah dan mempertahankan budaya turun temurun tersebut. Tidak hanya sebagai sumber penghasilan semata namun juga sebagai kebanggaan diri sebagai orang Madura. Seni ukir merupakan kesenian yang patut untuk dipertahankan sebagai penghargaan dan jati diri sebagai orang Madura. 

0 comments:

Post a Comment