Potensi Wisata

Dusun-dusun

Monday, August 8, 2016

Suatu Hari Kita akan Merindu

Karduluk, desa dimana kita ditempatkan untuk kelompok kami. Sedikitpun tak terlintas seperti apa suasana ataupun keadaan desanya. Waktu yang singkat membuat kita sampai disini. Awal mula kami bersama bukan dimulai dari tiba disini, namun dari awal pembagian kelompok  KKN di kampus. Keakraban??...jangankan keakrabakan kumpulpun tak pernah lengkap “kah sengkah cakna oreng madureh”. Tiba dimana waktu kita berangkat dan sampai di desa Karduluk.  
Dan lihatlah kami yang manja dengan barang bawaan yang sangat amat banyak. Kami  sebagai perempuan khusunya merasa beruntung mendapatkan tempat persinggahan khusus untuk kami beristirahat dengan keadaan yang sangat layak untuk ditempati. Bagaimana dengan yang laki-laki sendiri???... Syiriklah sebagai para laki-laki menempati satu ruang kecil di balaidesa dibandingkan tempat yang ditempati para perempuan. Namun tak jadi kesyirikan yang membuat hubungan persaudaraan kita menjadi renggang hanya karena suatu tempat singgah yang sementara waktu.
Di hari-hari pertama kita memulai dengan rapat prepare bagaimana untuk kegiatan kita selanjutnya. Dimasing-masing tempat peristirahatan laki-laki maupun perempuan disibukkan dengan pengaturan jadwal harian masak ataupun piket kebersihan harian. Tak ada kata untuk berkata tidak karena rapat kita sepakati bersama. Hari-hari berikutnya kita menjalaninya dengan gotong royong pembagian tugas sesuai devisi, namun tak memungkiri kita dari devisi lain siap membantu apabila devisi yang membutuhkan tenaga yang lainnya.
Untuk keakraban kita jalin setiap kami ada waktu luang dari waktu istirahat kita. Seperti waktu istirahat makan siang. Sebelum itu saya akan menceritakan bagaimana proses masak untuk satu kelompok kita. Mungkin beda dari kelompok-kelompok KKN yang lain yang rata-rata memasak adalah tugas perempuan, namun dikelompok kami itu tak berlaku karena kita mempunyai prinsip semuanya sama tak membedakan ntah itu laki-laki yang tidak bisa masak. Semuanya tak berlaku karena dari awal kita mempunyai pandangan untuk belajar, bukan sekedar belajar ilmu dari kegiatan KKN namun pengalaman hidup. Uniknya dari kami enak tidak enak kami nik mati pengertian dan saling berbagi tak usah diatur namun kesadaran dirilah yang terjalin dari kita.  Setelah waktu makan sebelum rapat evaluasi, tak lupa kamipun bercanda. Iseng-iseng faktor perjodohan antara perempuan dan lai-laki yang JOMBLO. Suasana yang sepi sunyi menjadi pecah ramai namun tetap tidak mengurangi kesopanan kami terhadap lingkungan sekitar. Tak berhenti di malam hari saja ketika ada waktu senggang dan waktu berkumpul entah apapun dan entah dari mana kita mendapatkan bahan untuk bercanda. Saya bisa mengansumsikan kalau dari kelompok 21 kita sebagian besar emang pandai untuk memecah suasana kesunyian menjadi gelak tawa yang mengurangi kejenuhan dari berbagai kegiatan kami. 
Di waktu bagunpun kami saling membangunkan bahkan salah satu anggota laki-laki yang dikelasknya terkenal sebagai kekelawarnya anak bahasa pun ikut bangun ketika para lelaki membangunkannya.meskipun dengan usaha yang sulit. Mandi, peempuan cukup beruntung air tinggal menyalakan kran saja, sedangakan para laki-laki harus menghemat air karena air mereka hanya bersumber pada satu sumber yang hanya mengalir pada waktu pagi dan sore saja dan itupun dialirkan ke satu desa Karduluk. Tahu sendirikan bagaimana  cara menghemat air, hehehe... ya salah satunya jarang mandi dan mencuci baju ketika air mengalir pada waktu pagi.
Keakraban dari anggota kelompok 21 di Karduluk tak membutuhkan waktu yang lama, seperti halnya di bagian perempuan adamya panggilan kesayangan tersendiri dari segaian anggota perempuan, contonya seperti anggota para devisi PDD yang lebih dikenal dengan panggilan “si julit” dan salah seorang yang bernama Rini fitriani yang kita juluki dengan nama “Nces” karena keluesan dan sikapnya yang sangat keputri-putrian. Selain karakter para laki-laki yang sangat kekeluargaan yang tak membuat kami sulit untuk saling bekerja sama. Semu kekompakan kami terlihat nyata ketika para LPPM dari kampus datang dan ternyata kami adalah kelompok yang paling siap dan terlihat nyata kerjanya selama seminggu ini.
Sepulang beliau-beliau dari Karduluk, kami sangat bahagia karena kerja kami tak sia-sia. Jenuh kami rasakan mulai dari minggu kedua dan suasana kami berubah seperti halnya kejenuhan terhadap lauk-pauk yang kami makan setiap pagi dan malam hanyalah sekedar tahu dan tempe, sayur pun hanyalah sayur kangkung, sayur sop dan itupun berulang setiap harinya meskipun dengan kreasi yang berbeda. Tak berhenti disitu saja salah satu teman kita sakit yang beberapa hari tak juga sembuh. Tukang pijat sudah kami carikan namun tak kunjung sembuh dan akhirnya kami memutuskan untuk membawa teman kami ke rumah sakit di Sumenep kota.  Lega ketika kami mendengar dia baik-baik saja hanya bermasalah di ototnya. kembali ke menu makanan waktu itu kami baru beli ayam untuk pertama kalinya hahahaha.... dan ternyata kucingpun memakannya di saat kami berkegiatan diluar untuk menyelesaikan progam unggulan kami. Dan apesnya ayam kami pun habis dari jumlah 20 sayap ayam, hanya tersisa 8 sayap saja. mungkin ini yang dinamakan belum ditakdirkn karena takdi yang indah akan datang setelah kesedihan berlalu. Haduh duhh,,,,
Minggu ketiga, sebagian sudah terlewatkan semakin disibukkan dengan kegiatan membuat kita merasa dan berkata dalam forum whatsap “pak ketua kami butuh liburan pak” kata sebagian besar dari anggotan kelompok 21 kami. dan rencanapun terlontar untuk pergi ke Gili Labak. Entah itu hnya jadi sebuah rencana yang terlaksana atau hanya sebuah rencana dan akan berlalu begitu saja masa KKN ini. Kita lihat saja ya kak .......
Kerengganan sepertinya terjadi antara para perempuan karena ada empat anak yang mencoba mencari sebuh suasana yang berbeda ya bisa dikatakan merefreshkan pikiranlah termasuk saya juga sebagai penulis yang pergi untuk mencari pemandangan yang indah. Sedangkan yang lainya disibukkan membuat kolak siwalan yang buah siwalanya kami dapatkan gratis untuk salah satu anggota kami, kenapa???.. mungkin saja naksir hehehehe..barupun kami berepat pulang dari pergi ketempat ya bisa dikatakan paralayangnya sumenep tapi suasana berubah menjadi aneh... sepuluh perempuan yang lain seperti membentuk kubu sendiri, kami berepat datang julit dan Alul. Ketika kami bertanya giliran mandi siapa jawaban sinispun kami dapatkan. Ya sudahlah biarlah kata si julit .... malam harinya mereka pergi ke balaidesa dan kamipun ditinggal dan sampai disana kami berept hanya menjadi garing tak ada yang memperdulikan dan yang membuat kami berepat aneh kedatangan salah satu dari kesembilan perempuan itupun berbiacara sharing pada sore hari. Hahahaha dan kami berepempatpun diam dan sampai sekarang masih mencari apa yang membuat mereka sedikit salah paham. Dan kaum laki-laki belom mengetahui kalau kami memecah menjdi sebuaah kubu tersendiri. Sedih ya ... huhu... hu.. hu     
Minggu keempat adalah minggu terakhir kami. Minggu-minggu lelah kami akan segala aktifitas dan kegiatan selama tiga minggu terakhir, dan disitulah kami merasa amarah yang mudah terpancing ketika satu hal yang sepeleh yang di lakukan salah satu teman kami membuat benar-benar marah. Bahkan tak memungkiri dalam minggu-minggu terakhir para perempuan terpecah dalam berbagai kubu hanya karena salah faham. Tiga hari terakhir hari jumat, kami mengadakan acara lomba HUT RI untuk anak-anak sekolah dasar. Acara sukses hingga waktu dimana selesai lomba memasukkan paku anggota kelompok kkn 21 yang khususnya laki-laki saling lomba satu dengan yang lain. Senyum terjadi antara kami karena kekonyolan laki-laki yang berusaha untuk memasukkan paku ke dalam botol. Di waktu malam hari setelah lomba kerupuk kami kedatangan bapak DPL kami pak Hermawan, bersyukur kami  yang waktu itu hari pertama dimana kita berkumpul bersama hingga larut malam membangun kekompakan kami dan kekeluargaan diantara kelompok 21. Bapak hermawan memberi masukan dan mencoba memecah kejenuhan kami agar tidak menggantuk dengan cara secara berurutan menanyakan kesan kami menjalani KKN di desa Karduluk, Sumenep. Gaya bahasa kami dan tingkah kami yang tetap memecahkan suasana sunyi  malam. Dalam pertengahan acara berlangsung, kami mendapat laporan jikalau ada tiga orang anak yang telah ikut lomba kerupuk belum pulang dan menghilang dan waktu itu mereka bertiga pergi bersama kepala sekolahnya. Ketua dan salah satu teman kami mencoba mencari di setiap desa Karduluk namun tak menemukan. Selanjutnya kamipun akhirnya menemukan kalau anak yang hilang tadi telah di ajak pulang bersama salah satu ibu temannya. Setelah dilakukan pengecekan dan ternyata memangbenar ia berada di rumah temannya tersebut. Seelah legah mendengar itukamimelanjutkan acara kami dengan bapak DPL hingga malam pukul 00:00. Setelah selesai itu kamipun khususnya perempuan balik ke posko. Keesokan harinya lebih tepatnya hari Sabtu acara untuk hari itu adalah nonton film perjuangan bersama warga Karduluk, acara berlangsung sukses meskipun tak banyakwarga yang hadir yang menghadiri acara kami. Namun, kami sangat puas karena waktu itu banyak anakanak kecil yanghadir untuk menonton film bersama kami. Setidakya kamimembantu mengingatkan bahwa betapa susahnya para pahlawan Indonesia berjuang merebut kemerdekaan Indonesia. Dengan itu anak-anak kecil tersebut menjadi lebih cinta Tanah Air Indonesia yang dimana, zaman sekarang para generasi bangsa lebih membanggakan Negara lain dibandingkan negaranya sendiri.
Satu hari sebelum menjelang pulang, lebih tepatya pada hari Minggu adalah acara terakhir kami yakni acara inagurasi Malam Ceria di Desa Karduluk. Waktu itu bisa dikatakan kalau kami tidak ada persiapan apapun semua hanya sekedar apa adanyatermasuk penampilan anak-anak KKN hanya menampilkan anak-anak devisi pendidikan saja. Berbeda dengan kelompok-kelompok yang lain, yang kebanyakan menampilkan sebuah panggung yang meggah dan terdapat karaokean para tamu bersama biduan Dangdut. Acara kami berlangsug sederhana dengan panggug yang sederhana yang kami desain sendiri dengan konsep klasik tanpa panggung. Dan kami menampilkan fashion show anak-anak kecil sekitar ruah bapak Kades, Banjari dan Devisi Pendidikan. Namun kami bangga mendengar sambutan bapak Carik yang waktu itu menggantikan bapak Kades memuji kami karena progam kami terbukti terbaik dengan cara kerja yang rapi dan sopan santun kami yang menghargai lingkungan Desa Karduluk yang notabennyaadalah lingkungan pesantren. Kemeriaan terasa diantara acara yang kami adkan hingga waktu 22:00 acara selesai dan para tamupun pulang. Setelah itu kamipun bergotong royong untuk membersihkan Balai Desa agar tak begitu terlihat berantakan. Acara terakhir kami yakni malam pengakuan dosa hahahaha… karena waktu itu kami saling meminta maaf atas ke khilafan kami selama 26 hari menjalani KKN 2016 air mata sebagian keluar karena kami tak ingin berpisah, karena kekeluargaan sudah terasa antara kami sekeluarga KKN 21.
Waktu yang singkat tlah mempersatukan kita
Waktu yang singkat juga yang memisahkan kita
Namun waktu yang singkat tak membuatku lupa
Tentang suka dan keluh kisah kita
            Terimkasih untuk semua kisah antara kita kelompok KKN 21!!!!! Semoga kita adalah keluarga untuk selamnya dan takkan pernah kalian lupakan semuanya, inggatlah dimana kita pernah tersenyum, makan dengan lauk sederhana, dan kenangan-kenangan indah yang lainya.

0 comments:

Post a Comment