Potensi Wisata

Dusun-dusun

Monday, August 1, 2016

Dusun Somangkaan Desa Karduluk

Dusun Somangkaan adalah salah satu dusun yang ada di desa Karduluk Kecamatan Pragaan Kabupaten Sumenep. Potensi lembaga yang ada di dusun Somangkaan meliputi lembaga keagamaan dan lembaga pendidikan. Lembaga keagamaan meliputi satu masjid dan satu pondok pesantren yang lokasinya berdekatan, dan karena lokasi yang berdekatan itu maka masjid tersebut biasa ditempati santri untuk pengajian. Adapun lembaga pendidikan hanya berupa satu sekolah dasar yaitu SDN 4 (empat) Karduluk.
            Dusun Somangkaan sendiri memiliki sejumlah kegiatan yang dilaksanakan pada setiap waktu tertentu. Berupa kelompok yasinan yang dilaksanakan di tiga musholla setiap satu bulan sekali, sedangkan kegiatan yang dilaksanakan oleh para ibu-ibu berupa muslimatan yang diadakan setiap minggu sekali, PKK yang dilaksanakan setiap dua minggu sekali. Selain kegiatan keagamaan tersebut, didusun Somangkaan juga diadakan kegiatan penyuluhan kesehatan yang dilaksanakan setiap satu bulan sekali dan posyandu setiap dua minggu sekali. Untuk lembaga pendidikan kegiatannya berupa pertemuan wali dengan guru yang dilaksanakan setiap satu bulan sekali. Somangkaan juga memiliki komunitas pemuda yang dinamakan IPNI.
            Somangkaan memiliki potensi lokal berupa air nira yang diolah menjadi gula nira atau gula merah. Namun, meskipun begitu mayoritas pekerjaan warga dusun Somangkaan adalah sebagai pengrajin ukiran atau dengan kata lain mereka bekerja di sentra meubel. Hampir 90% warga dusun Somangkaan bekerja sebagai karyawan di permeubelan, dan yang menjadi pengusaha di sentra meubel tersebut sekitar 10%, dan pemasarannya adalah dengan cara dikirimkan ke beberapa wilayah luar madura serta ada yang dijual kepada pengepul.. Salah satu warga yang bekerja sebagai pengusaha meubel adalah Bapak H. Harris, Bapak Madani, dan Bapak Suha. Untuk pengolah gula nira sendiri hanya sekitar 10%, dan pemasarannya dijual kepada pengepul. Potensi dari buah siwalan selain dimanfaatkan airnya, daunnya juga dimanfaatkan untuk kerajinan tangan  dengan bentuk tikar, namun hanya sekitar 1% warga dusun Somangkaan yang belerja sebagai pengrajin tikar.
Warga dusun Somangkaan juga ada yang bekerja sebagai nelayan namun sangat sedikit sekali yaitu hanya sekitar 1% dan petani jagung sekitar 10%. Namun, tidak semua warga dusun Somangkaan yang bekerja sebagai petani jagung mempunyai kepemilikan ladang sendiri. Mereka yang tidak memiliki ladang sendiri biasanya menggarap ladang orang lain dan hasilnya dibagi dua dengan si pemilik ladang. Hasil dari panen jagung tersebut tidak dijual oleh warga dusun Somangkaan, akan tetapi digunakan untuk konsumsi sehari-hari.
Selain beberapa pekerjaan diatas, warga dusun Somangkaan juga ada yang membuka usaha sendiri dengan perkiraan sekitar 10%.  Yaitu ada yang menjual sayuran di pasar, dan ada yang menjual makanan ringan dengan membuka toko kecil-kecilan di rumah sendiri.
Selain potensi-potensi di atas, Somangkaan sebagai sebuah dusun tentunya juga memiliki masalah-masalah yang dialami oleh para warga. Salah satunya yaitu bantuan pemerintah yang tidak tepat sasaran, kemudian masalah ekonomi yang berupa penentuan harga secara sepihak dari pemerintah. Penentuan harga sepihak tersebut dapat berupa kenaikan harga sembako dari pemerintah, sementara ketika warga menjual hasil taninya harga jualnya sangat rendah.

0 comments:

Post a Comment